Posted by : junaiding Kamis, 08 November 2012



14.986 Milyar Dolar[1]. itu merupakan jumlah total perdagangan barang di seluruh dunia pada tahun 2010. Sementara untuk persentase pertumbuhan jumlah perdagangan barang dunia dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 berjumlah rata-rata 8,9% setiap tahunnya[2].
Dapat dikatakan bahwa perbedaan disegala aspek di dunia yang menyebabkan adanya perdagangan internasional. Perbedaan – perbedaan itu menyebabkan hasil produksi, jumlah, kualitas, biaya produksi, dan pada akhirnya akan mempengaruhi harga jual yang berbeda-beda antar wilayah.
Seperti perbedaan iklim akan menentukan jenis tumbuhan apa yang bisa hidup dan dikembangkan. Karet alam misalnya, yang hanya dapat tumbuh di daerah tropis dan hanya terdapat di beberapa negara saja di dunia, Indonesia, Malaysia, Thailand adalah 3 diantaranya dan sekaligus sebagai negara yang menghasilkan karet alam terbesar di dunia. Sementara itu Amerika Serikat, China, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Rusia dan beberapa negara Eropa lainnya merupakan negara konsumen karet alam terbesar yang tidak memiliki sumber daya alam berupa karet alam. Jika dilihat dari sisi kualitas, negara-negara maju seperti China, Amerika Serikat, Jerman, dan Rusia memang dapat menghasilkan karet, namun karet daur ulang yang kualitasnya jauh berbeda dengan karet yang masih murni berupa getah keging karet alam. Dari uraian diatas telah tergambar adanya saling membutuhkan diantara berbagai pihak dan pada akhirnya semua kegiatan yang beragam itu akan menentukan harga jual produk itu sendiri.
Selain itu, perkembangan zaman yang semakin maju menyebabkan kebutuhan yang semakin bertambah dan kompleks serta mau tidak mau juga akan mempengaruhi aspek-aspek selain produk dalam perdagangan internasional, seperti aspek mobilisasi atau trasportasi, kebijakan pemerintah masing-masing negara, dan sistem perdagangan.
Dalam hal mobilisasi atau transportasi,  dengan berpatokan pada saat penulisan skripsi ini yakni tahun 2012, maka pada 56 tahun yang lalu pengankutan barang antar wilayan hanya menggunakan kapal dengan kapasitas 800 TEUs (Twenty - foot Equivalent Unit), 42 tahun yang lalu sudah menggunakan kapal dengan kapasitas angkut 1.000-2.500 TEUs, 32 tahun yang lalu sudah menggunakan kapal dengan kapasitas angkut sampai 4.000 TEUs, 24 tahun yang lalu sudah menggunakan kapal laut dengan kapasitas sampai 5.000 TEUs, 12 Tahun yang lalu dengan kapal laut yang mampu mengangkut sebanyak 8.000 TEUs, dan mulai tahun 2006 sampai sekarang (tahun 2012) pengiriman barang dapat dilakukan menggunakan kapal laut yang berukuran super jumbo seperti kapal-kapal milik Emma Maersk dengan kapasitas sampai dengan 14.500 TEUs.
Dan dari sisi pengangkutan melalui udara, sekarang ini juga telah terdapat angkutan pesawat kargo udara super jumbo seperti pesawat buatan rusia Antonov 225 yang bahkan mampu mengangkut 2 buah helikopter, ataupun beberapa kargo ukuran besar. Itu untuk saat ini, dan kedepannya pasti akan lebih beragam lagi kapasitas dan kualitas angkutnya.
Kebijakan pemerintah suatu negara juga akan turut mempengaruhi perdagangan internasional yang tertuang di dalam berbagai regulasi masing-masing negara tersebut, misalnya adanya larangan ekspor maupun impor untuk produk tertentu, kemudahan dan pemberian fasilitas tambahan untuk eksportir dan importir, subsidi, layanan single window, dan lain sebagainya.
Bahkan kompleksitas-kompleksitas perdagangan internasional sekarang ini dapat kita lihat juga dalam sistem perdagangan yang dilakukan oleh para pelaku perdagangan internasional itu, seperti misalnya dalam perdagangan barang di kawasan Asia, yang mana intensitan keluar masuk barang sangat tinggi terjadi di Singapore, padahal Singapore bukanlah negara konsumen dan produsen yang besar, akan tetapi banyaknya perusahaan di luar Asian yang membuka kantor cabang di Singapore untuk menangani kawasan Asia, selain itu tidak jarang perusahaan di Singapore menjual barang ke negara lain namun barang tersebut juga berada di negara lainnya atau bias dikatakan negara ketiga. Artinya perusahaan di Singapore ini hanyalah sebagai perantara. Dalam perdagangan internasional sekarang ini tidak jarang subjek hukum yang terlibat itu terdiri dari 3 negara atau lebih dan bukan hanya pelaku ekonomi yang berkedudukan di 2 negara yang berbeda saja. Sistem perdagangan dunia semakin kompleks.
Ini baru kondisi sekarang, tentu akan berbeda untuk kondisi kedepannya, dan yang pastinya akan semakin kompleks dalam hal produk, dan kebijakan pemerintah masing-masing negara, maupun sistem perdagangan itu sendiri.
Jika kita menelaah sistem perdagangan internasional, maka akan banyak sekali bagian-bagian penting dalam sistem perdagangan itu yang saling terhubung dan menjadikannya satu kesatuan dalam rangkaian proses perdagangan internasional.
Secara garis besar perdagangan internasional dapat kita kelompokkan menjadi 3 bagian, yakni perdagangan jasa, HKI (Hak Kekayaan Intelektual), dan Perdagangan barang. Khusus didalam skripsi ini akan penulis bahas hanya menyangkut perdagangan internasional terhadap barang.
Dalam praktiknya, perdagangan internasional sering sekali diasumsikan sama dengan ekspor dan impor. Namun jika kita perhatikan secara seksama terdapat perbedaan-perbedaan yang mendasar. Hal ini bisa terlihat dari penamaan-penamaan bagian dalam sistem organisasi perusahaan yang terlibat dalam kegiatan perdagangan internasional, baik itu Shiping Agent, Bank, Eksportir, Importir, atau perusahaan multinasional lainnya. Mereka membentuk divisi atau departemen mereka dengan nama International Trade Departement, Expor Departement, Import Departement, Import Unite, Trade Departement Finance, bahkan ada yang memberi nama L/C Department.
Pemberian nama-nama seperti itu telah menjadi kebiasaan dalam dunia praktik, yang sebagian pihak menganggap tidak terlalu penting selama dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan tujuan dasarnya. Seperti uangkapan yang mengatakan “tidak penting apa warna kucingnya, selama dia bias menangkap tikus”. Hal ini tentu dari sudut pandang dunia praktik, yang mana dalam bisnis fokus utamanya ialah pada sisi keuntungan, namun akan berbeda halnya dari sudut pandang hukum, yang lebih mengarah kepada keteraturan dan kejelasan makna dari semua istilah.
Memang ekspor dan impor didasari oleh transaksi perdagangan internasional dan itulah yang memberikannya kesamaan, namun perbedaan mendasar antara perdagangan internasional dengan ekspor dan impor dapat kita lihat langsung dalam praktik, seperti ada tindakan perdagangan internasional yang bukan ekspor dan impor, dan ada juga ekspor dan impor yang bukan perdagangan internasional.
Perdagangan internasional yang bukan ekspor dan impor misalnya seperti pembelian kepemilikan saham di perusahaan yang terdapat di luar negeri atau di negara lain, dan pembelian Permanen Recidence.
Untuk kegiatan ekspor dan impor yang bukan merupakan perdagangan internasional misalnya seperti pengiriman contoh barang ke negara lain, pengiriman barang hibah ke negara lain, dan barang bawaan penumpang ke negara lain, adalah sebagian contoh kegiatan ekspor dan impor yang bukan merupakan perdagangan internasional.
Menurut penulis sendiri perdagangan barang internasional itu tidaklah sama dengan kegiatan ekspor dan impor. Memang dalam perdagangan barang internasional kegiatan utamanya dinamakan ekspor dan impor namun masih ada unsur lain dalam sistem perdagangan barang internasional itu yang tidak termasuk di dalam kegiatan ekspor dan impor.
Secara sederhana sistem perdagangan barang internasional itu dapat digambarkan sebagai berikut: Produksi – Promosi – kesepakatan – kontrak – pengiriman – penyelesaian sengketa (jika timbul) – layanan purna jual.
Sedangkan untuk kegiatan ekspor impor secara umum dapat kita gambarkan: Kontrak – pengiriman barang – penyelesaian sengketa (jika timbul).
Bahkan ada beberapa pihak menganggap ekpor dan impor itu hanya terkait dengan pengiriman barang internasional saja, namun perlu dicermati bahwasanya kejelasan dan syarat-syarat pengiriman barang akan tertuang secara rinci di dalam kontrak dan jika ada hal-hal yang timbul selama proses pengiriman barang dan dapat merugikan salah satu pihak maka akan dilanjutkan dengan proses penyelesaian sengketa yang telah ditentukan didalam kontrak tersebut.
Ekspor dan impor. Selama perdagangan internasional ada maka kegiatan ekspor dan impor dipastikan akan selalu ada, setidaknya begitu faktanya sekarang ini dan dapat diperkirakan akan semakin berkembang untuk kedepannya. Oleh karena perekonomian global yang semakin maju sehingga hanya memberikan kita satu pilihan yakni go international, mau ataupun tidak mau, globalisasi yang ditandai dengan perdagangan internasional, proses ekpor dan impor yang semakin ramai dan kompleks adalah suatu keharusan. Dunia terlalu senpit jika kita tidak berinteraksi di kancah global. Dalam segala aspek, termasuk ekspor dan impor.
Globalisasi yang semakin berkembang telah menjelma menjadi tuntutan zaman. Kehidupan antar manusia saat ini sudah saling terhubung berkat semakin berkembangnya fungsi dan fasilitas teknologi informasi yang tersedia. Teknologi informasi telah merevolusi peradaban umat manusia sehingga dunia seperti sebuah desa kecil. Ungkapan yang dahulu kita dengar bahwa “dunia ada dalam genggaman” sepertinya dapat dibenarkan jika yang dimaksud adalah dalam hal akses, sebab memang dengan berkembangnya peralatan teknologi yang semakin cangging dan sering diberi julukan smart” membuat kita dapat mengakses informasi dari seluruh dunia hanya dari genggaman, saya memperkirakan nantinya bukan hanya dunia saja namun Alam Jagat Raya. Hambatan-hambatan yang dulu banyak menghalangi hubungan antar umat manusia, termasuk hubungan bisnis, kini mulai runtuh dan semakin terbuka. Manusia moderen saat ini cenderung ingin hidup lebih mudah, lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah. Kecenderungan ini pun juga berlaku dalam bisnis, termasuk dalam kegiatan ekspor dan impor antar negara-negara  di dunia. Dalam era perdagangan bebas, semua hambatan tarif dan non tarif direvisi agar arus ekspor dan impor antar negara dapat lebih lancar sehingga semua produk barang atau jasa menjadi semakin murah dan semakin mudah diperoleh di seluruh dunia.[4]
Dimana ada peluang, disitu ada tantangan. Dimana ada kemudahan pasti ada hambatan. Begitu juga dalam proses eksport dan import, ini memang menjanjikan peluang yang cukup besar bagi kalangan dunia usaha untuk memperluas pangsa pasar dan jaringan perdagangan, namun disisi lain akan terdapat banyak sekali hambatan-hambatan yang bisa terjadi. Seperti yang kita ketahui bahwasanya perbedaanlah yang menjadikan adanya ekspor dan impor, namun perbedaan pulalah yang menjadi hambatannya.
Perbedaan budaya, teknologi, sumberdaya, bahasa, geografis, alat tukar, dan yang paling penting adalah perbedaan dari segi hukum masing-masing negara. Perbedaan aturan ataupun sistem hukum yang berlaku di masing-masing negara dan kawasan menjadi sangat penting karena dalam aturan hukum, hampir semua aspek telah diatur.
Melihat proses ekspor dan impor sekarang ini yang semakin kompleks maka akan sangat sulit jika menerapkan aturan dari salah satu negara saja. Itu mungkin bisa terjadi namun potensi untuk terjadinya konflik akan sangat besar, mengingat perbedaan budaya antar para pihak. Oleh karena itulah hukum internasional hadir, untuk memberikan solusi dalam meminimalisir perbedaan aturan antar para pihak. Proses-proses unifikasi dan harmonisasi hukum itupun dilakukan oleh berbagai organisasi internasional, baik itu di tingkat regional maupun global. Sebagaimana kita ketahui bahwasanya organisasi-organisasi internasional merupakan salah satu subjek hukum internasional, yang menjadi tempat bagi negara-negara untuk berkumpul dan membentuk serta menyetujui aturan yang disepakati bersama untuk dijadikan landasan atau pegangan oleh anggotanya.
Di Afrika ada African Union (AU), di Amerika ada Organization of American Sates (OAS), di Asia ada Association of South East Asian Nations (ASEAN), dan di Eropa ada European Union (EU).
Itu organisasi yang ada di masing-masing kawasan, sementara itu untuk organisasi-organisasi yang berada di tingkat global terdapat cukup banyak organisasi yang menangani bidang perdagangan internasional. Namun karena penulis mengkhususkan untuk membahas hanya mengenai aturan hukum internasional dalam proses ekspor dan impor maka penulis hanya akan membahas organisasi-organisasi di tingkat global yang terkait erat dengan proses ekspor dan impor tersebut. Organisasi-organisasi itu yakni WTO (World Trade Organization), UNCITRAL (United Nations Commission on International Trade Law), ICC (International Chamber Of Commerce), UNIDROIT (International Institute For the Unification of Private Law), dan WCO (World Customs Organization).

To Be Continued...  

            Regards,
Jun


[1] WTO, International Trade and Tariff Data, online, diakses dari http://www.wto.org/english/res_e/statis_e/statis_e.htm, pada tanggal 24 Juli 2012, pukul 19:21.
[2] Ibid.
[3] Container Trasportation, “Container Ships”, online, diakses dari http://www.container-transportation.com/container-ships.html, pada tanggal 10 Agustus 2012, Pukul 20.33.
[4] Iswi Hariyani dan R. Serfianto D.P, Panduan Ekspor Impor, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010), Hal. 5.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Translate

Popular Post

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

- Copyright © INTERNATIONAL LAW -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -